Mungkin bagi anda, logo stasiun televisi ini sudah tidak asing lagi. Atau bahkan anda cenderung memiliki kebutuhan berlebih dalam mengonsumsi tayangan dari stasiun televisi ini?
Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi" merupakan gabungan dari kata tele (τῆλε, "jauh") dari bahasa Yunani dan visio("penglihatan") dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Industri televisi Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1962 dimulai dengan pengiriman teleks dari Presiden Soekarno yang berada di Wina kepada Menteri Penerangan Maladi pada 23 Oktober 1961. Presiden Soekarno memerintah Maladi untuk segera mempersiapkan proyek televisi. TVRI adalah stasiun televisi pertama yang berdiri di Indonesia.
TVRI melakukan siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 dengan pemancar cadangan berkekuatan 100 watt. TVRI mengudara untuk pertama kali tanggal 24 Agustus 1962 dalam acara siaran langsung upacara pembukaan Asian Games IV dari Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sejak saat itu dirintis pembangunan stasiun televisi daerah pada akhir tahun 1964. Kemudian dibentuk stasiun-stasiun produksi keliling (SPK) tahun 1977 sebagai bagian produksi dan merekam paket acara untuk dikirim dan disiarkan melalui stasiun pusat TVRI Jakarta di beberapa ibu kota provinsi. Konsep SPK diadopsi oleh beberapa stasiun televisi swasta berjaringan tahun 1990-an. Televisi swasta menggunakan kanal frekuensi ultra tinggi (UHF) dengan lebar pita untuk satu program siaran sebesar 8 MHz.
Ini dia 10 stasiun televisi swasta yang bersiaran nasional:
1. RCTI
2. SCTV
3. TPI
4. ANTV
5. TRANS TV
6. TRANS 7
7. METRO TV
8. GLOBAL TV
9. TV ONE
10. INDOSIAR
Kehidupan kita sudah sangat terikat dengan kehadiran televisi. Televisi seolah tidak dapat lepas dalam kegiatan sehari-hari baik ketika sedang makan, kumpul keluarga dan lain-lain, seluruhnya hampir berhubungan dengan televisi. Televisi menjadi tempat kita mencari informasi, mencari referensi, mencari hiburan, dll. Masyarakat menaruh kepercayaan yang sangat besar pada televisi dalam mencari informasi yang pada kenyataannya televisi memiliki agenda tersendiri untuk memenuhi kepentingan pemiliknya sehingga tidak jarang informasi yang ditampilkan juga tidak objektif. Televisi juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penontonnya karena telah dianggap sebagai media terpercaya dalam memberi berbagai informasi.
Kondisi ini menimbulkan persaingan yang juga tidak sehat antara stasiun televisi. Para pemilik program televisi berlomba-lomba dalam mengejar rating yang tinggi sehingga berimplikasi pada keragaman acara. Televisi juga menjadi alat penopang kekuasaan ekonomi dan politik sehingga media sering kali berpihak pada pemilik yang lebih berkuasa dengan agenda setting untuk kepentingan-kepentingan politiknya.
Contoh tayangan dengan rating tinggi tapi kualitas rendah ;
•Putri yang di Tukar (RCTI)
Contoh tayangan dengan kualitas tinggi tapi rating rendah ;
•Kick Andy (Metro TV)
Sinetron Sinema elektronik yang biasanya lebih sering disebut dengan sinetron merupakan serial drama sandiwara bersambung yang disiarkan di stasiun televisi. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap opera (opera sabun), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela. Menurut hasil wawancara dengan Teguh Karya yang merupakan sutradara terkenal asal Indonesia, istilah yang digunakan secara luas di Indonesia ini pertama kali dicetuskan oleh Soemardjono, merupakan salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Pertumbuhan stasiun TV sangat pesat karena secara umum saat ini dunia berada dalam era teknologi informasi/komunikasi. Secara khusus, di Indonesia hal itu terjadi karena;
•Pasar penonton yang menjanjikan
•Cakupan wilayah yang luas
•Maraknya pertumbuhan Production House (kurang lebih sebanyak 250-an)
•Pola menonton masyarakat yang tidak sehat (Heavy Viewer)
•Pasar penonton yang menjanjikan
•Cakupan wilayah yang luas
•Maraknya pertumbuhan Production House (kurang lebih sebanyak 250-an)
•Pola menonton masyarakat yang tidak sehat (Heavy Viewer)
Rating
Rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Rating merupakan data kepemirsaan televisi. Data merupakan hasil pengukuran secara kuantitatif. Jadi rating bisa dikatakan sebagai rata-rata pemirsa pada suatu program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total.
Cara kerja perhitungan rating televisi yaitu Nielsen memberikan panel (powermeter). Panel TAM di Indonesia saat ini mengukur 1.651 rumahtangga yang memiliki TV di 9 kota besar yaitu: Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek), Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkertasusila), Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta dan sekitarnya (DIY Yogya + Sleman & Bantul), Palembang dan Denpasar. Panel utama ini hanya mengukur kepemirsaan TV terrestrial. Terpisah dari panel utama ini di Jakarta, terdapat 150 panel rumahtangga yang berlangganan TV Kabel. (Pay TV panel).
Service: AGB Nielsen Media Researh memfokuskan layanan surveynya pada TAM (Survey Kepemirsaan Televisi) dan survey-survey lainnya yang berhubungan dengan Televisi.
Semua tayangan yang mendapat rating tinggi belum tentu memiliki kualitas tinggi menurut pemirsa (hasil penelitian Program Studi Televisi IKJ, 2006). Sebaliknya, tidak semua tayangan yang kualitas tinggi memiliki rating yang tinggi, (hasil penelitian Yayasan SET, 2007)
Rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Rating merupakan data kepemirsaan televisi. Data merupakan hasil pengukuran secara kuantitatif. Jadi rating bisa dikatakan sebagai rata-rata pemirsa pada suatu program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total.
Cara kerja perhitungan rating televisi yaitu Nielsen memberikan panel (powermeter). Panel TAM di Indonesia saat ini mengukur 1.651 rumahtangga yang memiliki TV di 9 kota besar yaitu: Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek), Surabaya dan sekitarnya (Gerbangkertasusila), Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Yogyakarta dan sekitarnya (DIY Yogya + Sleman & Bantul), Palembang dan Denpasar. Panel utama ini hanya mengukur kepemirsaan TV terrestrial. Terpisah dari panel utama ini di Jakarta, terdapat 150 panel rumahtangga yang berlangganan TV Kabel. (Pay TV panel).
Service: AGB Nielsen Media Researh memfokuskan layanan surveynya pada TAM (Survey Kepemirsaan Televisi) dan survey-survey lainnya yang berhubungan dengan Televisi.
Semua tayangan yang mendapat rating tinggi belum tentu memiliki kualitas tinggi menurut pemirsa (hasil penelitian Program Studi Televisi IKJ, 2006). Sebaliknya, tidak semua tayangan yang kualitas tinggi memiliki rating yang tinggi, (hasil penelitian Yayasan SET, 2007)
Contoh tayangan dengan rating tinggi tapi kualitas rendah ;
•Putri yang di Tukar (RCTI)
•Kick Andy (Metro TV)
Sinetron Sinema elektronik yang biasanya lebih sering disebut dengan sinetron merupakan serial drama sandiwara bersambung yang disiarkan di stasiun televisi. Dalam bahasa Inggris, sinetron disebut soap opera (opera sabun), sedangkan dalam bahasa Spanyol disebut telenovela. Menurut hasil wawancara dengan Teguh Karya yang merupakan sutradara terkenal asal Indonesia, istilah yang digunakan secara luas di Indonesia ini pertama kali dicetuskan oleh Soemardjono, merupakan salah satu pendiri dan mantan pengajar Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Sinetron pada dasarnya hampir menyerupai cerita film-film pada umumnya yaitu bercerita tentang gambaran kehidupan sehari-hari seorang atau beberapa karakter utama dengan berbagai situasi yang digambarkan. Biasanya dimulai dengan pengenalan karakter utama lalu mulai timbul permasalahan yang biasanya semakin lama semakin runyam hingga mencapai titik paling klimaks dari permasalahan yang pada akhirnya berakhir bahagia maupun sedih tergantung dari penulis skenario.
McCombs dan Shaw (1972) menguji dasar teori Agenda Setting Media:
•Media massa mempengaruhi penilaian pemilih mengenai apa yang mereka pikir isu utama suatu kampanye Presiden di AS.
•Friming berita dan agenda setting dapat menentukan pilihan khalayak dalam pemilu Presiden di AS.
•Skema agenda setting media menjelaskan, melalui teknik friming, media massa dapat menciptakan dan menentukan berbagai agenda publik. Kebutuhan tersebut seakan-akan harus segera dipenuhi oleh negara (pemerintah).
•Agenda media bermorfosis menjadi agenda publik. Pada titik ini, agenda media memiliki kekuatan membentuk opini publik.
•Opini publik memiliki kekuatan mendorong (mendesak) negara/pemerintah sebagai policy maker.
•Kasus Prita Mulya Sari vs RS Omni International atau penahanan Bibit/Chandra membuktikan kekuatan agenda setting media.
Kritik terhadap Agenda Setting
Menurut Gene Burd, terdapat beberapa catatan penting buat penelitian agenda setting selama ini yaitu ;
• Terlalu terpusat pada media massa.
• Terlalu banyak mendasarkan pada model garis pertemuan produksi dan pembentuk pendapat publik.
• Menggunakan media massa sebagai mesin pendidikan raksasa yang efektif untuk mensosialisasikan pada publik untuk menerima kebijakan yang dibuat oleh jurnalis.
• Menganggap publik sebagi individu atomistik (homogen, masyarakat massa).
• Komunikasi dilihat sebagai transmisi.
Jadi, setelah menyimak ulasan tadi, apakah anda masih berminat dengan televisi? Selalu ada dampak positif dan negatif yang dapat diambil oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk mencari pengetahuan.
Referensi:
McCombs dan Shaw (1972) menguji dasar teori Agenda Setting Media:
•Media massa mempengaruhi penilaian pemilih mengenai apa yang mereka pikir isu utama suatu kampanye Presiden di AS.
•Friming berita dan agenda setting dapat menentukan pilihan khalayak dalam pemilu Presiden di AS.
•Skema agenda setting media menjelaskan, melalui teknik friming, media massa dapat menciptakan dan menentukan berbagai agenda publik. Kebutuhan tersebut seakan-akan harus segera dipenuhi oleh negara (pemerintah).
•Agenda media bermorfosis menjadi agenda publik. Pada titik ini, agenda media memiliki kekuatan membentuk opini publik.
•Opini publik memiliki kekuatan mendorong (mendesak) negara/pemerintah sebagai policy maker.
•Kasus Prita Mulya Sari vs RS Omni International atau penahanan Bibit/Chandra membuktikan kekuatan agenda setting media.
Kritik terhadap Agenda Setting
Menurut Gene Burd, terdapat beberapa catatan penting buat penelitian agenda setting selama ini yaitu ;
• Terlalu terpusat pada media massa.
• Terlalu banyak mendasarkan pada model garis pertemuan produksi dan pembentuk pendapat publik.
• Menggunakan media massa sebagai mesin pendidikan raksasa yang efektif untuk mensosialisasikan pada publik untuk menerima kebijakan yang dibuat oleh jurnalis.
• Menganggap publik sebagi individu atomistik (homogen, masyarakat massa).
• Komunikasi dilihat sebagai transmisi.
Jadi, setelah menyimak ulasan tadi, apakah anda masih berminat dengan televisi? Selalu ada dampak positif dan negatif yang dapat diambil oleh karena itu jangan pernah berhenti untuk mencari pengetahuan.
Referensi:
Kuliah umum dengan pembicara Dr. Iswandi Syahputra, M.Si, Komisioner KPI Pusat dan juga sebagai dosen di Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar