Iklan sangat berperan dalam menarik perhatian masyarakat terutama untuk tujuan mempengaruhi dan mempersuasikan suatu ajakan.
Dalam iklan politik, partai politik beradu untuk memperebutkan suara masyarakat agar mau memilih dengan melakukan berbagai macam cara.
Tetapi tetap saja masyarakat ada yang tidak memberikan suaranya atau yang dikenal dengan istilah golput. Golput sendiri menjadi pilihan masyarakat dengan berbagai alasan.
Pada Pemilu tahun 2009 terdapat
121.504.481 suara sah,
dari 176.367.056 pemilih terdaftar
Penurunan suara sebanyak 20.579.661 orang
( 23,24 %.)
- Pemilu Legislatif tahun 2009, jumlah golput 49.212.158 (27,77 %).
- Jumlah ini lebih besar, dibandingkan dengan perolehan suara Partai Demokrat, sejumlah 21.703.137 suara. (Kompas, 10 Mei 2009).
Sedangkan para partai politik telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mempromosikan partai mereka tersebut. Mereka berlomba-lomba mengajak dan menjanjikan masyarakat melalui berbagai media terutama iklan di media televisi.
Jenis Iklan Yang Paling Berpengaruh
Terhadap Pemilih (Majalah Tempo, 5-4-2009)
•Iklan Televisi 59,7 %
•Media Cetak 2,2 %
•Radio 1,9 %
•Spanduk 10,1 %
•Baliho 2,9 %
•Stiker 2,8 %
•Kaus 8,9 %
•Lain – lain 11,6 %
Terhadap Pemilih (Majalah Tempo, 5-4-2009)
•Iklan Televisi 59,7 %
•Media Cetak 2,2 %
•Radio 1,9 %
•Spanduk 10,1 %
•Baliho 2,9 %
•Stiker 2,8 %
•Kaus 8,9 %
•Lain – lain 11,6 %
The Nielsen Co.Ind :belanja iklan
Pemilu 2009 - Rp 2,154 triliun.
Terdapat ketimpangan dalam cara yang dilakukan partai politik karena biaya yang mereka keluarkan tidak setimpal dengan apa yang mereka dapatkan.
Bila dilihat bahwa biaya belanja iklan untuk pemilu semakin meningkat sedangkan jumlah suara masyarakat yang golput juga terus meningkat.
Kenyataan ini membuktikan bahwa usaha yang dilakukan partai politik terutama melalui media iklan bukanlah hal yang efektif, karena kurangnya respon dari masyarakat dalam menanggapi iklan yang disiarkan melalui televisi.
Jadi, partai politik harus mencari cara yang lebih baik untuk mendekatkan diri dengan masyarakat sehingga mereka lebih respect dan mau untuk memberikan suara kepada partai yang mereka percayai.
Referensi:
Kuliah umum dengan pembicara Dr. Eko Harry Susanto, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar